Kamis, 03 September 2009

Hey, Pakaian Dalammu Ketinggalan!!


Dua hari menjelang datangnya bulan ramadhan, petugas yang mengaku sebagai penertib (baca : Satpol PP) mulai bergerak menyisir penyakit masyarakat (pekat). Giat rutin ini, oleh beberapa penikmat pekat, tak banyak disadari. Momen melepaskan syahwat terlarang sebelum bulan ”larangan” itu benar-benar dimanfaatkan. Alasan injury time, penikmat pekat itu asyik masyuk di hotel kelas melati, sampai yang ”agak” berbintang di Kota Mojokerto.
Sisiran awal, petugas terjun ke semak-semak di bawah jembatan. Di tempat syahwat kelas bawah itu, petugas sama sekali tak mendapati para penikmat pekat kategori ”nikmat” ini. Sisiran selanjutnya, sejumlah warung remang-remang yang juga tak mendapati hasil. Bergerak ke sana kemari—temasuk tempat kost yang diduga mesum juga—lagi-lagi petugas hanya membawa tangan kosong.
Jengah tak mendapati mangsa, petugas lantas mencoba masuk ke salah satu hotel kelas lumayan. Seperti dikira sejumlah kuli tinta, di hotel yang berdekatan dengan terminal itu, tak satupun penikmat syahwat yang ketangkap. Meski beberapa berpenghuni, petugas hotel beralasan para tamu itu sedang pelesir keluar kamar. Aneh juga pemandangan ini.
Bergerak lagi ke salah satu hotel kelas melati yang konon kerap menjadi jujugan para penikmat syahwat kelas bawah. Kecewa lagi. Petugas hanya mendapati satu pasangan yang ternyata tak semesum yang dibayangkan. Berbekal surat nikah, pasangan resmi ini bisa lolos dari jeratan petugas. Masih aman sampai di sini.
Kembali bergerak menuju hotel kelas lumayan yang masih satu pemilik dengan hotel kelas lumayan dekat terminal itu. Entah kenapa feeling tempat ini bersih atau dibersihkan kembali terbukti. Tak satupun penikmat syahwat yang diringkus. ”Tak ada tamu yang tanpa surat nikah. Semua aman,” kata salah satu petugas hotel yang berada di jalan utama kota itu.
Tak jauh dari hotel kelas lumayan itu, puluhan petugas tampak mulai sibuk mengeler beberapa pasangan tanpa nikah menuju mobil. Tercium bagaimana hotel kelas melati ini benar-benar menjadi sasaran pecinta injury time ramadhan. Satu, dua, tiga hingga puluhan pasangan mesum dipergoki. Pasangan belia, setengah umur, tua dan bahkan yang mengaku sebagai wartawan, satu per satu dikeler setelah mereka merapikan baju yang sudah pada tanggal.
Di satu kamar yang terletak paling sudut itu tampak tenang meski derap kaki petugas kencang terdengar. Hanya sebuah motor matic yang tampak gagah parkir di ruang tamu berukuran sempit itu. Yakin, jika di kamar ini ada aktivitas ”ngos-ngosan”. Beberapa menit menunggu usai memanggil, petugas mulai tak sabar. Mulailah dengan gedoran pintu agak keras. ”He, keluar. Ada razia,” bentak salah satu petugas sembari terus mengetuk pintu setengah keras.
”Iya, pak. Sebentar,” suara setengah ketakutan itu keluar dari mulut seorang laki-laki. Beberapa detik kemudian, keluarlah pria belia dengan tergopoh-gopok merapikan celana yang baru saja ia lepas. Sambil melongok ke dalam kamar, pemuda ini meminta pasangannya untuk keluar bersamanya. Rambut yang acak-acakan dan mimic ketakutan terlihat dari wajah perempuan yang usianya masih kisaran 17 tahun itu.
Belum sempat digelandang, petugaspun usil masuk kamar dengan fasilitas spring bed itu. Kaget bukan kepalang. Di atas kasur dan lantai, tercecer dua benda yang semestinya terpasang di badan. Benda terbuat dari kain berbentuk segitiga, dan kain dengan dua ”mangkok” itu lupa dipakai pemiliknya. Buru-buru, petugaspun meminta perempuan ini untuk tak melupakan penutup aibnya. ”Hey, pakaian dalammu ketinggalan!!,” teriak petugas sambil malu-malu.
Malu-malu itupun dianut perempuan ini. Setangah takut, perempuan berambut panjang dan berkulit putih itu meminta izin petugas untuk kembali memasan ”peralatannya” di tempat sepantasnya. Tak sampai satu menit, dua benda pribadi itupun terpasang di tempatnya, meski agar bergeser dari tempat sepantasnya.
Kedua wajah muda-mudi itupun tertutup kedua tangannya. Sembari berbisik kepada sang pejantan, mulut gadis belia itu mulai menggerutu. Berpikir apa jadinya jika perbuatan mereka berdua itu sampai di telinga orang tua. Langkah seribu diambil agar cepat-cepat sampai di mobil penghakiman petugas.
Mobil truk yang bertengger di halaman hotel itupun seakan tak puas menampung para penikmat kenikmatan sesaat itu. Penuh juga, hingga akhirnya beberapa pasangan terpaksa diangkut mobil terbuka yang menyediakan layanan plus ”malu”. Dikeler, didata dan beberapa saat kemudian mereka dikembalikan ke hotel semula. Menuntaskan hasrat yang sempat tertunda oleh ulah petugas.
Jika tak ingin mengalami nasib yang sama, segera tinggalkan hotel pada saat seperti ini. Bila tak kuasa menahan hasrat dan ingin menikmati malam terakhir sebelum puasa, pilih saja tempat yang lebih aman. Minimal, di hotel kelas lumayan yang menyediakan servis informasi, bahwa akan ada petugas akan mengusik malam itu. (*)

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 20 Maret 2009

Gegar Budaya Sang Ponari


Bocah itu belum genap berusia 10 tahun, dan masih duduk di bangku sekolah dasar. Nama besar sebagai seorang dukun cilik, telah membuat Ponari kehilangan jati diri.

Sekilas melihat perjalanan Ponari sebelum ia dijuluki sebagai dukun cilik, dan menjadi harapan bagi puluhan ribu mereka yang didera sakit. Lahir dari keluarga yang sangat sederhana—dan bahkan bisa dibilang serba kekurangan—Ponari adalah anak pendiam yang tak banyak melayangkan tuntutan kepada kedua orang tuanya.
Dari pola hidup yang serba minim, praktis membuat anak pasangan Kamsin – Mukharomah ini tak banyak berulah. Jangankan membeli mobil-mobilan yang harganya puluhan ribu, untuk sekedar membeli layang-layang saja, Ponari harus menunggu rezeki yang setimpal yang jatuh untuk seorang pencari Bekicot, ayahnya.
Pendiam, tak banyak bertingkah dan bertutur. Itulah predikat yang disandang Ponari sebelum ia menjadi ”Maha Dokter” bagi para pasiennya. Di tengah kesibukannya sebagai ”anak biasa”, ia menghabiskan waktunya hanya dengan bermain, yang tanpa membutuhkan modal. Ia pun bisa menikmati kondisi ini. Serba keterbatasan !!!
Kekurangan sisi ekonomi, tak cukup itu saja yang menghinggapi Ponari. Di bangku sekolah, ia tergolong murid yang terbelakang saat berebut prestasi. Duduk di bangku paling belakang, menunjukkan jika Ponari memang dalam kondisi tak dilirik sang guru. Lagi-lagi, Ponari berada pada sisi Serba keterbatasan !!!.
Awal Februari, dewi fortuna sedang hinggap di atas atap rumah Ponari yang hanya berukuran 4 x 6 meter dan berdinding bambu itu. Ponari yang bertubuh mungil (dan sepertinya kurang gizi) ini mendapati sebuah batu warna kuning keemasan—yang konon katanya—ia temukan diatas kepalanya sesaat setelah petir menyambar. Peristiwa supranatural inilah yang seakan menjadi pembenar, bahwa Ponari mampu menyembuhkan beragam penyakit hanya dengan batu petirnya itu. Dia menjadi lebih !!!
Stigma itu melekat. Bahwa Ponari dipercaya mampu menjadi penyembuh atas semua penyakit yang turun di dunia ini. Mereka yang lumpuh, buta, tuli, atau yang sekarat sekalipun, mencoba kehebatan bocah yang terlahir di kampung santri ini. Dengan hanya mencelupkan batu petirnya ke dalam air mineral, Ponari mampu ”memperdayai” puluhan ribu pasiennya. Tentu saja, karena dia menjadi lebih !!!
Banyaknya pasien yang ditangani, berbanding lurus dengan jumlah rupiah yang didapat Ponari, dari tarif berlabel ”sedekah” itu. Mulai puluhan, ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, dan hingga tembus ratusan juta, dengan mudah didapatkan. Kepolosan bocah ini, bahkan bisa membuat wajah kedua orang tuanya tersenyum lebar, karena uang yang didapat sudah dalam angka miliar. Dia menjadi lebih dan lebih !!!.
Dalam situasi awal perubahan hidup itu, Ponari masih bisa menjalani irama lamanya. Kadang, ia harus melayani ribuan calon pasien yang ngantre, meski kondisi fisiknya mulai menolak. Inilah yang membuat Ponari mulai kehilangan jati dirinya. Gegar budaya sang Ponari mulai tumbuh. Ponari mulai berubah !!!!!
Saat kedudukan, rupiah, dan segala keinginannya bisa dipenuhi, gegar budaya itu pelan-pelan terjadi. Bocah yang sebelumnya dengan ”khusyu” mengobati pasiennya itu, mulai menampakkan perubahan. Mulailah, ia mengobati sembari bermain handphone, yang seumur-umur belum pernah ia pegang. Untuk sekedar mencelupkan batu petirnya, Ponari harus meminta tolong seseorang yang juga menggendongnya. Ponari terus berubah !!!!!
Puas bermain dengan telepon genggam keluaran terbaru, Ponari ingin menambah dosis. Kali ini, dia mulai mengenal senjata Tukul Arwana ‘laptop’. Benda itu seakan mengalahkan segalanya di mata Ponari. Waktu senggang, atau bahkan pada saat ia ingin mengobati, alat ini menjadi teman baginya. Belum lagi, ia sempat minta handy talky (HT) milik anggota polisi dan TNI yang menjaganya. Perlakuan istimewa dari dua aparat keamanan itu, membuat Ponari semakin berubah !!!!!.
Ponari menjadi makhluk yang paling diharapkan, setelah dua minggu lebih memilih meliburkan diri. Puluhan ribu manusia semakin menempatkan Ponari ke posisi yang paling pucuk. Bahkan, gawe besar Pemilu 2009, tak segempar panitia yang terus berupaya melanggengkan bisnis yang serba menguntungkan itu. Ponari juga menjadi pemberi rezeki bagi ribuan warga sekitar, menunggangi ketenarannya.
Lama tak mengobati, gegar budaya dari diri Ponari semakin menjadi-jadi saja. Congkak, mulai tumbuh dari bocah fenomenal ini. Sambil berdiri tinggi diatas meja, ia menyiramkan air pasien ke muka mereka masing-masing. Tampak sekali, jika Ponari mulai menikmati posisinya, yang serba diberi kemakluman. Ibu tua renta dengan memakai jilbab, tak luput dari siraman bocah seumur jagung itu. Ponari mulai kelewat batas.
Pesan agar menghormati yang tua, tampaknya tak pernah digubrisnya. Di tengah keasyikan mengobati pasien dengan cara tak sopan itu, Ponari masih saja sempat menambah deret panjang kebrutalannya. Seorang polisi, tak tanggung-tanggung, seorang kapolsek, menjadi sasaran kebrutalan Ponari. Dua kali tendangan kakinya mendarat di badan kapolsek, yang memiliki wilayah pengamanan di daerah itu. Gegar budaya itu semakin menjadi-jadi saja.
Ironisnya, ada saja yang mendukung gegar budaya yang kelewatan itu. Seorang anggota TNI dengan seragam lengkap-kap, menanting sebuah ember besar berisi air dihadapan sang raja Ponari. Pria bertubuh kekar ini, dengan pasrah meminta kesembuhan dari seorang bocah yang belum baliq. Ketika pria bertampang garang itu memejamkan mata, seketika Ponari menyiramkan air ke muka penjaga teritorial itu. Semakin pasrah anggota TNI ini, semakin bangga saja Ponari.

Ponari Menjadi Cermin
Mengintip dari sisi lain, ada banyak pelajaran dari seorang Ponari. Batu ajaib itu, seakan menjadi tamparan keras bagi para ahli kesehatan. Membeludaknya pasien pengobatan supranatural ini, seakan menyajikan fakta jika biaya kesehatan semakin tak terjangkau oleh masyarakat. Cukup dengan lembaran ribuan, pasien sudah mendapati keyakinan akan kesembuhan. Berbeda dengan seorang dokter, yang mewajibkan pasien untuk merogoh kocek dalam-dalam, dan kerap membuat keder saat menghadapi korps berbaju putih ini.
Tamparan bagi medis lagi, Ponari menunjukkan fakta lain, yakni tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dokter mulai luntur. Entah karena seringnya kasus malapraktik, atau memang, masyarakat banyak yang menemui kekecewaan dengan rawatan dokter. Ponari yang hanya seorang bocah ingusan itu, harus beradu dengan seorang dokter, yang memakan biaya tak sedikit untuk mendapatkan gelar. Bahkan, Ponari seakan menang dalam pertarungan tak seimbang ini.
Gegar budaya yang ditunjukkan Ponari, seakan menunjukkan nilai-nilai bangsa ini. Seorang anak yang sudah tak patuh lagi pada orang tua ; hidup berlebih bagi mereka yang mulai mengantongi rupiah ; kesombongan bagi mereka yang memiliki kelebihan ; dan kebodohan kelompok yang selama ini dianggap memiliki intelektual lebih (saya tak perlu menyebut kelompok ini). Jika boleh ditarik lagi dalam pesta demokrasi waktu dekat ini, sikap baru Ponari itu, mungkin saja menunjukkan sikap para politisi. Yang selalu mengalami gegar budaya saat berada di kursi terhormat. Minta dihormati, memandang rendah orang lain, dan bergaya hidup serba mewah, serta lupa akan komunitas dimana dia dilahirkan.
Semoga saja gegar budaya Ponari itu, semata-mata untuk menunjukkan fakta-fakta yang perlu kita pelajari bersama. Bukan sikap sesungguhnya, yang justru membuat Ponari akan dibuang jauh-jauh setelah tak lagi mampu mengobati. Ponari tetap saja punya masa depan yang normal, sebagai anak yang butuh proses normal pula. Kembali ke bangku sekolah, bermain, mengerjakan PR, dan menatap masa depan melalui pendidikan yang didapat, kendati pendidikan di negeri ini masih jauh dari harapan. (*)

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 06 Maret 2009

Banjir Mojokerto Meluas


MOJOKERTO (SINDO) – Banjir terus menerjang wilayah Mojokerto. Bahkan kemarin, banjir meluas hingga masuk wilayah kota.
Banjir yang disebabkan hujan deras selama enam jam, Kamis (05/03) malam itu merendam tujuh kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto dan dua kecamatan di wilayah Kota Mojokerto. Ribuan rumah warga terendam banjir, bahkan keringgian air maksimal mencapai 1 meter lebih.
Di wilayah Kabupaten Mojokerto, banjir menerjang 18 desa di tujuh kecamatan. Tujuh kecamatan itu diantaranya, Kecamatan Mojosari, Bangsal, Mojoanyar, Sooko, Trowulan, Ngoro, dan Dawarblandong. Semenetara di Kota Mojokerto, banjir menerjang dua kecamatan yakini Kecamatan Magersari dan Prajurit Kulon.
Banjir terparah terjadi di Dusun Gembongan, Desa Jotangan Kabupaten Mojosari. Di desa yang sudah tiga hari terendam banjir ini, ketinggian air mencapai 1 meter lebih. Ratusan rumah dan puluhan hektare tanaman padi siap panen terendam air. Warga memilih meninggalkan rumah mereka lantaran kondisi air yang sulit surut.
Sejak pukul 01.00 dini hari kemarin, warga di Dusun Gembongan mulai meninggalkan rumah mereka dengan menggunakan perahu darurat yang terbuat dari batang pohon pisang. Hingga siang, warga masih sibuk mengevakuasi para manula, anak-anak dan hewan piaraan keluar dari kampung dan menuju tempat penampungan korban di balai desa setempat.
Lantaran banyaknya warga yang mengungsi, kampung ini nyaris tanpa penghuni. Warga memilih tinggal di kerabat dan camp pengungsi dua tenda dan kantor balai desa. Di kampung ini, warga sudah mulai diserang penyakit kulit dan diare lantaran banjir yang terus menerus menerjang kampungnya.
Tingginya banjir di wilayah ini lantaran jebolnya tanggul di Kali Tekuk dan Ngrayung di Desa Salen Kecamatan Bangsal. Selain iru, beberapa titik tanggul di Kali Sadar yang melintas di sebelah desa juga jebol. ”Kemarin siang (Kamis), air masih setinggi lulut. Lalu ada tanggul yang jebol lagi dan membuat ketinggian air terus bertambah,” tutur Yoko, salah satu pemuda setempat yang ikut mengevakuasi warga sejak dini hari.
Banyaknya pengungsi memaksa Dinas Sosial (Dinsos) setempat untuk mendirikan dua tenda darurat di jalan masuk kampung, yang berbatasan dengan areal persawahan. Selain itu, posko kesehatan juga tampak dijejali warga yang mulai merasakan sakit akibat banjir.
Di lokasi lain di Kecamatan Sooko, ratusan rumah warga juga terendam banjir setinggi 75 sentimeter. Dua sekolah dasar, SDN Tempuran I dan II, terpaksa diliburkan lantaran kondisi gedung sekolah yang terendam air setinggi lutut orang dewasa. Pelayanan di balai desa juga lumpuh lantaran kantor yang juga tak luput dari rendaman air.
Di Desa Salen, Kecamatan Bangsal, banjir juga merendam ratusan rumah warga dan melumpuhkan aktivitas belajar mengajar di sekolah dasar setempat. Warga yang seakan bosan dengan banjir itu, memilih untuk tetap tinggal di rumah masing-masing, kendati ketinggian air yang masuk ke dalam rumah mencapai tinggi lutut.
Wakil Bupati Mojokerto, Wahyudi Iswanto, mengungkapkan, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan Provinsi Jawa Timur untuk membenahi sejumlah tanggul sungai yang jebol. Pasalnya, rata-rata di lokasi yang banjir, merupakan daerah pinggiran sungai yang langganan banjir. ”Karena ada beberapa infrastruktur yang merupakan wewenang pusat. Kami masih koordinasikan,” terang Wahyudi Iswanto.
Dia mengaku, sementara ini pihaknya masih belum bisa melakukan perbaikan infrastukur, mengingat kondisi cuaca yang masih sering hujan. ”Sementara ini kita memberikan bantuan kepada para korban banjir. Baik sembako, maupun peralatan lain,” katanya.
Di Kota Mojokerto, banjir terjadi sejak pukul 22.00 WIB. Air menggenangi jalan-jalan utama hingga ketinggian lulut orang dewasa. Beberapa kelurahan terendam air, dan memaksa warga untuk menutup sementara pintu masuk gang. Namun, pagi kemarin, air mulai surut dan aktivitas lalu-lintas berangsur normal.
Banjir juga menerjang Jombang. Sedikitnya 15 desa di tiga kecamatan terendam air. Tiga Kecamatan itu diantaranya, Kecamatan Sumobito, Mojoagung dan Sumobito. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 50 sentimeter hingga 1 meter lebih. Selain ratusan rumah terendam, ratusan hektare tanaman padi juga terancam gagal panen. (tritus julan)

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 18 November 2008

Kuliah Jurusan Sakit Hati


Jarum jam menunjukkan pukul 09.15, saat itu aku sedang menjalani rutinitas, ditemani sebuah kamera dan pena, dan beberapa buku catatan kecil. Tiga alat kerja ini membawaku ke sebuah tempat yang di sana terdapat ribuan pengangguran—yang ingin ”berjudi” menjadi calon pegawai negeri sipil.
Wuih, ternyata benar dugaanku. Di setiap lorong ruangan dan loket pendaftaran, penuh sesak dengan kaum yang katanya lebih mudah mencari kerja itu. Beberapa dari mereka tampak kelosotan sembari asyik mengisi formulir. Teliti, semua berkas mereka siapkan sesuai dengan warna amplop yang diminta panitia.
Kali ini, mataku tertuju pada satu ruangan yang laing banyak ditunggu. Tepatnya di gedung paling belakang, ribuan orang berjejal ingin mendapatkan tempat paling depan. Desakan, dorongan dan aksi saling sikut tampak terlihat di barisan. Kaum perempuan pun harus ikut bertarung dengan para lelaki—yang tentu saja lebih punya tenaga.
Ingin mengabadikan momen terbaik, aku mencoba menaiki tangga, tak jauh dari kerumunan orang ini. Satu, dua, hingga tiga kali jepret, aku sudah merasa puas. Namun, aku tak segera beranjak dari tempat berketinggian sekitar 3 meter terbuat dari kayu itu.
Dari bawah, aku dipanggil seorang pria jangkung berusia tak lebih dari 25 tahun. Seketika itu aku menghampiri dan sejenak mendengar apa dikatakan. ”Mas, itu-tu, banyak pendaftar, berkasnya dikembalikan,” kata pria tadi, saat kuusut, dia lulusan DII Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) lokalan di Mojokerto.
Tertarik juga aku mendengar cerita pria ini. Lantas dia nyerocos, bagaimana pengalalamannya selama tiga jam ngantre ternyata tak membuahkan hasil. Ijazah yang ia kantongi, tak dikehendaki panitia. ”Hanya ijazah DII dari perguruan tinggi negeri (PTN) saja yang diterima. Ijazah saya tak laku,” protes pria ini dengan nada kesal setengah mengadu.
Uh, seketika perasaanku berubah. Pena dan block notes kupaksa keluar dari tas. Terus kugali keluhan pria yang mengaku mengenalku itu. Dengan nada sedikit memerintah, pria ini memintaku agar menanyakan kejanggalan ini kepada panitia—yang sebelumnya telah ia datangi. Akupun segera memastikan kesana.
Di ruang informasi, tampak dua orang—pria dan wanita berpakaian dinas. Dua orang ini ternyata sedang sibuk melayani protes ratusan pendaftar. Aku semakin yakin, jika yang dikatakan pria tadi adalah benar : panitia hanya menerima lulusan DII dari PTN untuk mengisi formasi guru SD.
Sesaknya pemrotes, memaksa aku untuk menghentikan niat untuk bertanya kepada dua petugas informasi ini. Sedikit jahil, aku mencoba melempar pertanyaanku kepada salah satu dari mereka. ”Iya, ijazah DII saya tidak diterima. Katanya hanya menerima PTN, tapi ada satu PTS yang juga disebut bisa diterima,” ungkap seorang perempuan berjilbab mengadu.
Semakin yakin saja aku, jika pendaftaran CPNS ini tebang pilih. Bayanganku, pasti ada ribuan pendaftar lain yang bernasib sama dengan dua orang terakhir yang mengadu itu. Perempuan ini malah mengumpat kenapa dia susah-susah duduk dibangku kuliah selama dua tahun lalu. Mahalnya biaya dan banyaknya tugas sebagai calon pengajar, seakan ingin ia tarik kembali. ”Trus buat apa kuliah. Kalau ijazah tak laku, jadi PNS hanya mimpi,” gerutu perempuan itu lebih serius.
Ternyata benar. Salah satu dari panitia mulai membuka mulut. Mereka memang sengaja membuat keputusan untuk tak ”mengakomodasi” lulusan non PTN. Gila!!!!! Trus mau dikemanakan ribuan eks mahasiswa ini. Aku sempat berhitung, jika dalam setahun ada seribu mahasiswa yang lulus dari PTS di Mojokerto, akan ada puluhan ribu dari mereka yang tidak berhak memimpikan jadi PNS—yang katanya, kerja nyante, suka korupsi dan menjunjung tinggi prinsip asal bapak senang (ABS) itu.
Aku jadi berbalik ke masa tiga tahun silam. Saat aku mengenakan jubah warna hitam dan kalung dari kain yang bermata kuningan itu. Tersadar dengan sendiri : beruntung aku tak ikut jejak ribuan eks mahasiswa ini. Jika iya, penolakan yang sama akan terjadi padaku. Tentunya, rasa sakit itu pasti akan datang.

(Makanya, jika tak pintar, jangan kuliah di PTS. Jika tak kaya, jangan kuliah. Dan jika ingin tak sakit hati bagi lulusan PTS, jangan daftar jadi PNS). Rabu, 19/11/08 . 02.23

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 07 November 2008

10 Nyawa Melayang dengan Satu Linggis


JOMBANG (SINDO) – Ingin tahu bagaimana Very Idham Henyansyah alias Ryan membunuh sepuluh korbannya, yang dikubur di pekarangan belakang rumahnya?


Ternyata Ryan tak butuh cara nekoneko untuk menghabisi 10 orang itu. Cukup dengan sebuah linggis. Motifnya pun macam-macam. Cara Ryan menghabisi korban- korbannya terungkap kemarin. Dia selalu menghantamkan linggis ke kepala korbannya. Dalam rekonstruksi yang berlangsung di rumah orangtuanya,di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, pagi hingga petang kemarin Ryan dengan fasih memperagakan kesadisan yang dia lakukan setahun silam.

Dia mempraktikkan satu per satu cara menghabisi para korbannya itu. Pembunuhan yang terkesan paling sadis adalah saat dia menghabisi ibu dan anak, Nanik Hidayati dan Silvia Dewi Ramadhani. Ryan memukulkan linggis di tengkuk Nanik dan Silvia secara bergantian. Keduanya dikuburkan dalam satu lubang. Kepala Silvia diletakkan persis di paha ibunya.Keduanya membujur berlawanan arah.

Ryan mengaku menghabisi Nanik Hidayati karena risih dengan tingkah perempuan itu. Berkali-kali Nani memeluknya, tepatnya ketika mengambil buah pepaya di belakang rumah Ryan.”Bagian leher saya sempat dicium. Saya marah dan langsung mendorongnya hingga terjatuh,” aku Ryan menjawab pertanyaan anggota Ditreskrim Polda Jatim saat rekonstruksi berlangsung.

Tak cukup di situ, Ryan kembali mengambil linggis yang sama di kandang ayam. Lantas dia memukul tengkuk Nanik dengan sangat keras hingga ibu dua anak itu tewas seketika. ”Anaknya datang. Saya juga memukul tengkuknya hingga keduanya tersungkur. Setelah saya cek di kamar mandi, keduanya sudah tewas,” ungkap Ryan enteng dengan lagak lembengnya.

Sepanjang rekonstruksi Ryan tampak tenang.Tak jarang dia menebar senyum kepada warga yang berbondongbondong menonton adegan itu. Sikapnya bahkan cenderung minta diistimewakan oleh petugas. Berkali-kali jagal lembeng ini minta air minum. Dengan santai dia peragakan caranya menghabisi korban sembari menenggak air mineral dari dalam gelas. Nani dan Silvia adalah korban keenam dan tujuh.

Sebelum menghabisi keduanya, lima nyawa telah melayang setelah dihantam linggis yang sama. Korban pertama yang harus kehilangan nyawa di tangan Ryan adalah Guruh Setyo Pramono alias Guntur.Guruh dibunuh di lorong kamar mandi, yang terpisah dari rumah utama. Menggunakan linggis dari kandang ayam, Ryan memukul tengkuk Guntur hingga tewas. Setelah itu Ryan menguburkannya di bekas kolam di halaman belakang rumah. Ryan juga menggunakan pemberat berupa pagar beton dan batu saat menguburkan Guntur.

Itu dilakukan agar jenazah korban tak mengapung dalam air.Untuk merapikan pembunuhan itu, sebelum mengubur Guntur, dia membungkus tubuh korbannya itu dengan seprei. Korban Ryan berikutnya adalah Agustinus F Setyawan. Sama dengan Guntur, Ryan juga membunuh korban dengan linggis. Alat pertukangan ini sama dengan yang digunakan untuk membunuh Guntur.

Namun, sebelum memukulkan linggis ke tengkuk korban, Ryan sempat terlibat baku hantam. Di tengah perkelahian, ketika Guntur lengah, Ryan memukulkan linggis itu ke tengkuknya. Guntur pun tersungkur dan Ryan menghabisinya. Perlakuan yang sama juga dilakukan Ryan terhadap korban lainnya,Muhammad Aksoni dan dan Zainal Abidin alias Zaki.

Dua orang ini juga dihabisi Ryan dengan linggis di belakang rumahnya.Sebelum membunuh Zaki, Ryan juga sempat beradu hantam.Ryan terbilang perkasa. Zaki bahkan sudah KO sebelum linggis Ryan menghantam kepalanya. Pembunuhan dua orang sekaligus juga dilakukan Ryan terhadap Aril Somba Sitanggang dan Vincenstius Yudi Priyono.

Ryan membunuh Vincenstius karena rekannya itu tahu dia membunuh Aril.Lantaran takut aksi pembunuhan itu diketahui Vincenstius, Ryan lantas memukul tengkuk korban. Lagi-lagi menggunakan linggis yang sama.”Waktu saya akan menguburkan Aril pada malam hari, Vincenstius datang. Langsung saya bunuh,” ungkap Ryan sambil mempraktikkan cara mengubur dua korbannya itu dalam satu lubang.

Rekonstruksi Asrori Jadi Sorotan

Rekonstruksi terhadap pembunuhan Asrori paling mendapat sorotan. Maklum, dalam kasus Asrori, Polres Jombang melakukan kesalahan fatal.

Rekonstruksi ini memperjelas adanya salah tangkap terhadap kasus pembunuhan Asrori, yang sebelumnya diidentifikasi Polres Jombang sebagai mayat rusak yang ditemukan di kebun tebu Desa Braan,Kecamatan Bandar Kedungmulyo.Dalam kasus ini tiga orang jadi pesakitan, yaitu Imam Hambali alias Kemat, Devid Eko Priyanto, dan Maman Sugianto alias Sugik.

Peragaan pembunuhan Asrori dilakukan paling akhir.Padahal, sesuai runtutan kejadian, Asrori adalah korban kedelapan Ryan di Jombang. Asrori juga tewas setelah linggis ”maut”Ryan mendarat di tengkuknya.Asrori dikuburkan di dekat pohon salak, yang ada di lokasi paling belakang di halaman rumah Ryan. Sayangnya,terkait rekonstruksi kemarin, lagi-lagi polisi tutup mulut.

Namun menurut informasi yang didapat, Ryan memilih siang hari untuk menghabisi korbannya. Dari sepuluh korban, hanya tiga orang yang dibunuh malam hari. ”Hanya Aril,Vincenstius, dan Grady, yang dibunuh malam hari.Pembunuhan terhadap Nanik Hidayati dan anaknya juga dilakukan siang hari,” kata salah satu sumber dari Polda Jatim yang tak mau disebut namanya.

Modusnya hampir sama, yakni berlatar belakang asmara dan harta. Jika ingin membunuh korbannya,Ryan melakukan kontak via telepon dan meminta korban datang ke rumahnya.”Ada juga yang tak sengaja datang,tapi lebih banyak dihubungi dulu. Linggis yang digunakan juga sama.Dia menyimpan linggis itu di kandang ayam dan mengambilnya jika diperlukan,” ungkap sumber tadi. (tritus julan)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/184615/37/

[+/-] Selengkapnya...